Dentuman meriam mungkin telah pergi, tubuh-tubuh korban telah dikuburkan, puing-puing reruntuhan mulai dibersihkan, tetapi, serangan biadab Israel selama 22 hari banyak meninggalkan goresan bagi penduduk Gaza, fisik dan psikologi.
“Aku tidak akan pernah berjalan lagi,” ujar Ruba Hamid, 8, yang mengatakan hal tersebut di atas tempat tidurnya di RS. Asy Syifa.
Air matanya pun tertumpah saat ia menyaksikan di TV, banyak dari anak-anak seusianya yang kehilangan kaki, tangan, bahkan kedua-duanya akibat bombardir yang dilakukan Israel.
“Aku tidak dapat bermain lagi,” rengek Ruba.
Kedua kaki Ruba harus diamputasi setelah terkena bom Israel.
Menurut keterangan para dokter, ribuan penduduk Gaza, banyak diantaranya adalah anak-anak, telah kehilangan anggota badan mereka karena luka yang sangat parah yang mengharuskan dilakukannya amputasi.
Dr. Mo’aweya Hasanein, Kepala Ambulan dan Unit Gawat Darurat di Gaza mengatakan dirinya menaksir 14 persen dari 5.000 korban luka mengalami cacat seumur hidup.
“Dan angka-angka tersebut meningkat setiap harinya, setiap hari ada saja pasien yang kehilangan satu mata, satu tangan, satu kaki,” ia menambahkan.
Seluruh dokter di Gaza, menyimpulkan, luka-luka yang terjadi di tubuh korban adalah luka yang tidak normal, akibat penggunaan senjata kontroversi oleh tentara Israel.
Dr. Mads Gilbert dari Norwegia, yang bekerja di RS Asy Syifa, Gaza, sejak minggu pertama agresi militer Israel, meyakini Israel telah menggunakan Dime yang mengakibatkan tubuh-tubuh korban harus diamputasi satu demi satu.
Berjalan di sekitar RS. Asy Syifa, engkau akan mendengar pekikan dari mereka yang telah tersadar dan mendapatkan tubuh mereka kehilangan anggota badannya.
Tetapi di ruangan Hani, hanya ada kesunyian.
Gadis berusia 23 tahun ini telah kehilangan kedua kakinya akibat serangan misil Israel di rumahnya.
Matanya menatap kosong ke depan, dan sejak berada di rumah sakit, ia tidak pernah berbicara sepatah katapun. Kadang-kadang air mata meleleh di pipinya.
“Ia tidak ingin menemui siapapun,” ujar Ibu dari Hani seperti yang dilansir Islamonline.
“Para dokter mengatakan, ia mengalami gangguan psikologis,” ia menambahkan.
Tidak hanya Ruba dan Hani, seluruh korban invasi kejam Israel selama lebih dari tiga pekan, menyimpan pertanyaan dalam pikiran mereka :
“Apa yang telah saya lakukan sampai Israel melakukan ini padaku?” (Hanin Mazaya/arrahmah.com)
Rabu, 25 Maret 2009
Selasa, 10 Februari 2009
Pelanggaran yang Telah Dilakukan Israel Terhadap Al Aqsha Sejak 1965
Pelanggaran yang Telah Dilakukan Israel Terhadap Al Aqsha Sejak 1956
Laporan yang dirilis oleh Office of the Press bekerjasama dengan Lembaga Al Aqsha untuk wakaf dan peninggalan mengatakan bahwasanya sejak Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967 telah dilakukan serangkaian penggalian yang mencapai tiga puluh buah, yang mencakup pembangunan terowongan dan pembongkaran yang sebagian besarnya dilakukan terhadap Masjid Suci Al-Aqsa, dan menghadapi resiko keruntuhan.
Menurut laporan, yang baru-baru ini diambil oleh "Islam Online. Net," bahwa setelah penjajahan Al Quds sampai abad terakhir, Israel telah melakukan lebih dari 12 penggalian terowongan, pembongkaran, yang sebagian besarnya dilakukan di bawah masjid Al Aqsha.
Sejak tahun 2004 hingga 2009 penggalian tidak pernah berhenti, namun ada beberapa rahasia yang berhasil diungkapkan; lebih dari 15 penggalian, terowongan dan pembongkaran, yang baru-baru ini terbongkar oleh Lembaga Al Aqsha untuk wakaf dan peninggalan pada 5/2/2009. Dan ada upaya Israel untuk menggali terowongan baru di sebelah kiri mesjid ‘Ein Silwan’ selatan Masjid Al-Aqsha, yang dibiayai oleh lembaga kolonisasi "Elad".
Berikut diantara penggalian dan penghancuran Israel yang paling menonjol di Al-Quds sejak tahun 1967:
1 – Penghancuran komplek Al Magharibah:
Menggunakan bulldozer, Israel menghancurkan komplek Al Magharibah yang berdekatan dengan Masjid Al-Aqsa bagian barat daya, dan komplek ini, termasuk dua masjid dan 135 rumah, merupakan benteng dari masjid yang menempel dengan Tembok ratapan, dan merupakan bagian integral dari masjid Al-Aqsha.
Kawasan ini sekarang berubah menjadi halaman berlantai beton yang digunakan sebagai tempat upacara-upacara keagamaan Yahudi di Tembok Buraq (yang mereka sebut tembok ratapan), serta dijadikan sebagai parkir bagi para wisatawan, dan menjadi pos pemeriksaan dan kontrol keamanan.
2 - Penggalian selatan Masjid Al-Aqsha (1967 - 1968):
Terbentang sepanjang 70 m di dinding selatan komplek Al Quds, atau di belakang masjid Al-Aqsa, masjid An Nisa dan Museum Islami. Kedalaman penggalian mencapai 14 m, menghadapi bahaya yang mengancam keretakan dinding selatan dan bangunan Masjid Al-Aqsa.
3 – Penggalian Kampung Syarif (1967 - 1968)
Israel memanfaatkan keuntungan dari situasi kampung Arab yang hancur sejak 1948, dan setelah penjajahan Al Quds mereka mengaku sebagai pemiliknya. Padahal mereka tidak menemukan peninggalan apapun selain bagian kecil dari tembok lebar yang mereka akui sebagai peninggalan Raja Hezekiyah yang mereka katakan sebagai keturunan Nabi Dawud.
Setelah itu Israel membuat kampung Al Quds menjadi rumah-rumah batu yang desainnya tidak relevan dengan peninggalan sejarah manapun, dan terus meningkat signifikan; tujuannya untuk menguasai komplek masjid Al Aqsha di sebelah barat, dan kemudian ditempati oleh keluarga-keluarga Israel.
4 – Penggalian Barat daya Masjid Al-Aqsa (1969):
Terbentang menghadap utara sepanjang 80 meter hingga pintu Al Magharibah, lewat di bawah sekumpulan bangunan Islami yang merupakan bagian sudut al fakhriyyah (Markaz Imam Syafii dan jumlahnya 14) yang sudah retak semuanya, yang kemudian dimusnahkan menggunakan buldozer oleh para penjajah dan diungsikan penduduknya.
Laporan yang dirilis oleh Office of the Press bekerjasama dengan Lembaga Al Aqsha untuk wakaf dan peninggalan mengatakan bahwasanya sejak Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967 telah dilakukan serangkaian penggalian yang mencapai tiga puluh buah, yang mencakup pembangunan terowongan dan pembongkaran yang sebagian besarnya dilakukan terhadap Masjid Suci Al-Aqsa, dan menghadapi resiko keruntuhan.
Menurut laporan, yang baru-baru ini diambil oleh "Islam Online. Net," bahwa setelah penjajahan Al Quds sampai abad terakhir, Israel telah melakukan lebih dari 12 penggalian terowongan, pembongkaran, yang sebagian besarnya dilakukan di bawah masjid Al Aqsha.
Sejak tahun 2004 hingga 2009 penggalian tidak pernah berhenti, namun ada beberapa rahasia yang berhasil diungkapkan; lebih dari 15 penggalian, terowongan dan pembongkaran, yang baru-baru ini terbongkar oleh Lembaga Al Aqsha untuk wakaf dan peninggalan pada 5/2/2009. Dan ada upaya Israel untuk menggali terowongan baru di sebelah kiri mesjid ‘Ein Silwan’ selatan Masjid Al-Aqsha, yang dibiayai oleh lembaga kolonisasi "Elad".
Berikut diantara penggalian dan penghancuran Israel yang paling menonjol di Al-Quds sejak tahun 1967:
1 – Penghancuran komplek Al Magharibah:
Menggunakan bulldozer, Israel menghancurkan komplek Al Magharibah yang berdekatan dengan Masjid Al-Aqsa bagian barat daya, dan komplek ini, termasuk dua masjid dan 135 rumah, merupakan benteng dari masjid yang menempel dengan Tembok ratapan, dan merupakan bagian integral dari masjid Al-Aqsha.
Kawasan ini sekarang berubah menjadi halaman berlantai beton yang digunakan sebagai tempat upacara-upacara keagamaan Yahudi di Tembok Buraq (yang mereka sebut tembok ratapan), serta dijadikan sebagai parkir bagi para wisatawan, dan menjadi pos pemeriksaan dan kontrol keamanan.
2 - Penggalian selatan Masjid Al-Aqsha (1967 - 1968):
Terbentang sepanjang 70 m di dinding selatan komplek Al Quds, atau di belakang masjid Al-Aqsa, masjid An Nisa dan Museum Islami. Kedalaman penggalian mencapai 14 m, menghadapi bahaya yang mengancam keretakan dinding selatan dan bangunan Masjid Al-Aqsa.
3 – Penggalian Kampung Syarif (1967 - 1968)
Israel memanfaatkan keuntungan dari situasi kampung Arab yang hancur sejak 1948, dan setelah penjajahan Al Quds mereka mengaku sebagai pemiliknya. Padahal mereka tidak menemukan peninggalan apapun selain bagian kecil dari tembok lebar yang mereka akui sebagai peninggalan Raja Hezekiyah yang mereka katakan sebagai keturunan Nabi Dawud.
Setelah itu Israel membuat kampung Al Quds menjadi rumah-rumah batu yang desainnya tidak relevan dengan peninggalan sejarah manapun, dan terus meningkat signifikan; tujuannya untuk menguasai komplek masjid Al Aqsha di sebelah barat, dan kemudian ditempati oleh keluarga-keluarga Israel.
4 – Penggalian Barat daya Masjid Al-Aqsa (1969):
Terbentang menghadap utara sepanjang 80 meter hingga pintu Al Magharibah, lewat di bawah sekumpulan bangunan Islami yang merupakan bagian sudut al fakhriyyah (Markaz Imam Syafii dan jumlahnya 14) yang sudah retak semuanya, yang kemudian dimusnahkan menggunakan buldozer oleh para penjajah dan diungsikan penduduknya.
Mesir Menahan Bantuan Kemanusiaan
Pejabat Pemerintahan Otoritas Palestina di Jalur Gaza menjelaskan, sebanyak 28 warga Palestina yang tengah menjalani perawatan medis di Mesir telah kembali masuk ke Jalur Gaza melalui penyeberangan Rafah.
Sejumlah Delegasi Jalur Gaza juga telah mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk melewati penyeberangan Rafah yang ditutup total semenjak Kamis, (05/02) lalu. Saat ini, satu-satunya jalur yang bisa dilalui menuju Jalur Gaza adalah Penyeberangan Karem Abou Salem yang berada di wilayah Israel.
Juru bicara resmi Bidang Administrasi Umum di Kantor Imigrasi Gaza, Adil Za`rab mengatakan bahwa Pemerintah Mesir masih bersikukuh menutup penyeberangan Rafah, dan belum memperkenankan evakuasi para korban dari Jalur Gaza atau mengembalikan warga Gaza yang telah usai menjalani perawatan medis di beberapa rumah sakit di Mesir untuk kembali ke negerinya.
Gubernur Propinsi Sinai Utara, Jendral Muhammad Abul Fudail Syausyah, mencoba meyakinkan masyarakat internasional bahwa pihaknya telah membuka penyeberangan Rafah untuk keperluan kemanusiaan. Pernyataan tersebut disampaikan Abul Fudail (08/02) saat mengunjungi Kota Arisy –sekitar 40 km dari penyeberangan Rafah-yang kini masih menampung 12 ton bantuan kemanusiaan internasional yang akan ditujukan ke Jalur Gaza. Dan bantuan-bantuan itu masih tertahan di Kota Arisy, menunggu keluarnya izin masuk oleh Israel melalui dua penyeberangan lain yaitu Aujah dan Karem Abou Salem.
Berdasarkan laporan penduduk Palestina yang berdomisili di perbatasan Rafah-Mesir dijelaskan, bahwa Penyeberangan Rafah Ahad (08/01), tetap dalam kondisi tertutup, semenjak hari Kamis (05/02), Rafah belum pernah dibuka, baik untuk masuknya bantuan kemanusiaan atau pun relawan.
Sumber lainnya dari stasiun TV Aljazeera menyebutkan, bahwa selama empat hari ini penyeberangan Rafah masih tertutup untuk bantuan kemanusiaan. Warga Gaza yang masih berada di Mesir dan ingin secepatnya kembali menemui keluarga mereka di Gaza, hingga kini juga masih tertahan, hal yang sama juga dialami oleh para relawan medis, wartawan, dan aktivitis HAM. Hanya Delegasi Runding Hamas yang dizinkan melewati Penyeberangan Rafah pada hari Ahad kemarin.
Seorang relawan yang minta dirahasiakan namanya mengaku kesal, karena tidak dibolehkannya Relawan Bulan Sabit Merah (BSM) Turki melewati Penyeberangan Rafah oleh pihak imigrasi Mesir. Rencananya BSM Turki akan menyalurkan bantuan dua unit ambulan ke Jalur Gaza. Bahkan pintu penyeberangan Karem Abou Salem pun yang awalnya direkomendasikan menjadi alternatif masuk ke Gaza juga tidak memberikan izin kepada BSM Turki.
Hal yang sama dialami Aktivis Int`l Islamic Relief Organisation, Lembaga Bantuan Islam Internasional, yang bermarkas di London. Lembaga ini juga berencana menyumbangkan dua unit kendaraan sipil untuk warga Jalur Gaza, namun rencana itu masih belum terealisasi. Pintu penyeberangan Karem Abou Salem masih tetap tertutup.
Sementara Organisasi Internasional untuk Perdamaian dan Bantuan Kemanusiaan Libia pimpinan Dr. Khalid Al-Khuwalidi Al-Hamidie, hari Rabu lalu (04/02) berhasil memasukkan lima unit ambulans ke Jalur Gaza, sehari sebelum pintu penyeberangan Rafah ditutup total oleh Pemerintah Husni Mubarak. (Sumber: eramuslim.com/sn/alj)
Sejumlah Delegasi Jalur Gaza juga telah mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk melewati penyeberangan Rafah yang ditutup total semenjak Kamis, (05/02) lalu. Saat ini, satu-satunya jalur yang bisa dilalui menuju Jalur Gaza adalah Penyeberangan Karem Abou Salem yang berada di wilayah Israel.
Juru bicara resmi Bidang Administrasi Umum di Kantor Imigrasi Gaza, Adil Za`rab mengatakan bahwa Pemerintah Mesir masih bersikukuh menutup penyeberangan Rafah, dan belum memperkenankan evakuasi para korban dari Jalur Gaza atau mengembalikan warga Gaza yang telah usai menjalani perawatan medis di beberapa rumah sakit di Mesir untuk kembali ke negerinya.
Gubernur Propinsi Sinai Utara, Jendral Muhammad Abul Fudail Syausyah, mencoba meyakinkan masyarakat internasional bahwa pihaknya telah membuka penyeberangan Rafah untuk keperluan kemanusiaan. Pernyataan tersebut disampaikan Abul Fudail (08/02) saat mengunjungi Kota Arisy –sekitar 40 km dari penyeberangan Rafah-yang kini masih menampung 12 ton bantuan kemanusiaan internasional yang akan ditujukan ke Jalur Gaza. Dan bantuan-bantuan itu masih tertahan di Kota Arisy, menunggu keluarnya izin masuk oleh Israel melalui dua penyeberangan lain yaitu Aujah dan Karem Abou Salem.
Berdasarkan laporan penduduk Palestina yang berdomisili di perbatasan Rafah-Mesir dijelaskan, bahwa Penyeberangan Rafah Ahad (08/01), tetap dalam kondisi tertutup, semenjak hari Kamis (05/02), Rafah belum pernah dibuka, baik untuk masuknya bantuan kemanusiaan atau pun relawan.
Sumber lainnya dari stasiun TV Aljazeera menyebutkan, bahwa selama empat hari ini penyeberangan Rafah masih tertutup untuk bantuan kemanusiaan. Warga Gaza yang masih berada di Mesir dan ingin secepatnya kembali menemui keluarga mereka di Gaza, hingga kini juga masih tertahan, hal yang sama juga dialami oleh para relawan medis, wartawan, dan aktivitis HAM. Hanya Delegasi Runding Hamas yang dizinkan melewati Penyeberangan Rafah pada hari Ahad kemarin.
Seorang relawan yang minta dirahasiakan namanya mengaku kesal, karena tidak dibolehkannya Relawan Bulan Sabit Merah (BSM) Turki melewati Penyeberangan Rafah oleh pihak imigrasi Mesir. Rencananya BSM Turki akan menyalurkan bantuan dua unit ambulan ke Jalur Gaza. Bahkan pintu penyeberangan Karem Abou Salem pun yang awalnya direkomendasikan menjadi alternatif masuk ke Gaza juga tidak memberikan izin kepada BSM Turki.
Hal yang sama dialami Aktivis Int`l Islamic Relief Organisation, Lembaga Bantuan Islam Internasional, yang bermarkas di London. Lembaga ini juga berencana menyumbangkan dua unit kendaraan sipil untuk warga Jalur Gaza, namun rencana itu masih belum terealisasi. Pintu penyeberangan Karem Abou Salem masih tetap tertutup.
Sementara Organisasi Internasional untuk Perdamaian dan Bantuan Kemanusiaan Libia pimpinan Dr. Khalid Al-Khuwalidi Al-Hamidie, hari Rabu lalu (04/02) berhasil memasukkan lima unit ambulans ke Jalur Gaza, sehari sebelum pintu penyeberangan Rafah ditutup total oleh Pemerintah Husni Mubarak. (Sumber: eramuslim.com/sn/alj)
Rabu, 31 Desember 2008
Suriah-Turki Peringatkan Reaksi Berbahaya atas Agresi Israel
DAMASKUS--Suriah dan Turki, Rabu, memperingatkan mengenai reaksi berbahaya atas agresi Israel yang berlanjut ke Jalur Gaza terhadap keamanan dan kestabilan di wilayah itu, demikian laporan kantor berita resmi Suriah, SANA.
Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan peringatan tersebut selama satu pertemuan di ibukota Suriah, Damaskus.
Dalam pertemuan itu, mereka membahas pembantaian yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza dan cara untuk menghentikan pertumpahan darah di kalangan rakyat Palestina, mencabut sanksi dan membuka tempat penyeberangan.
Bashar dan Erdogan menganggap "agresi Israel itu terhadap Jalur Gaza telah menghancurkan semua upaya yang dilancarkan guna mewujudkan perdamaian di wilayah itu".
Mereka menambahkan, "Tak mungkin untuk berbicara mengenai perdamaian mengingat sikap keras kepala Israel."
Mereka mendesak negara Arab untuk memikul tanggung-jawab mereka dengan cara menjamin pengiriman semua keperluan hidup dan medis buat rakyat di Jalur Gaza, terutama korban kejahatan Israel.
Mereka "menggaris-bawahi perlunya negara Arab dan Islam bertindak dan memaksa Israel segera menghentikan pembantaian yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina yang tak bersenjata", demikian antara lain isi laporan mengenai pertemuan kedua pemimpin Timur Tengah itu.
Kedua pihak juga menggaris-bawahi perlunya untuk melanjutkan kerjasama dan koordinasi antara kedua negara guna mengakhiri penderitaan rakyat Palestina dan mengirim bantuan bagi keluarga yang terkepung di Jalur Gaza.
Mereka juga menyampaikan penghargaan atas gerakan rakyat Arab, negara Islam dan dunia guna mendukung rakyat Jalur Gaza dan mengakhiri agresi keji Israel.
Jalur Gaza, yang dikuasai HAMAS, menghadapi serangan udara gencar Israel untuk hari kelima berturut-turut Rabu.
Sejak Sabtu lalu, serangan udara gencar terhadap Jalur Gaza telah menewaskan sebanyak 400 orang Palestina dan melukai 2.000 orang lagi.
Pada Senin, Menteri Luar Negeri Turki Ali Babacan mengatakan Turki secara resmi mengakhiri upaya guna mengadakan pembicaraan perdamaian antara Israel dan Suriah di tengah serangan Israel ke Jalur Gaza.
Seorang pejabat senior Suriah dilaporkan mengatakan pada Ahad bahwa Suriah telah menghentikan pembicaraan perdamaian tak langsung dengan Israel sebagai reaksi atas serangan Israel ke Jalur Gaza.
Pada Mei, Suriah dan Israel, yang secara teknis masih berada dalam kondisi perang sejak konflik pertama Arab-Israel pada 1948, memulai pembicaraan tak langsung melalui Turki, setelah perundingan langsung terhenti delapan tahun lalu sehubungan dengan masalah rumit Dataran Tinggi Golan.
Setelah empat babak perundingan, proses tersebut telah terhenti sejak Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mengumumkan pada Juli ia akan meletakkan jabatan sehubungan dengan tuduhan korupsi.
Suriah menjadi persinggahan pertama kunjungan Erdogan ke empat negara Timur Tengah.
Sebelum kunjungannya, ia mengatakan kepada wartawan bahwa Turki sangat prihatin dengan perkembangan di Jalur Gaza sejak operasi keji itu dimulai pada Sabtu (27/12) dan tujuan lawatannya ialah "untuk membantu menghentikan perkembangan berbahaya itu".
Erdogan dijadwalkan mengunjungi Jordani setelah meninggalkan Suriah, dan direncanakan bertemu dengan Raja Abdullah II serta Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Erdogan kemudian akan pergi ke kota pelancongan Laut Merah Mesir, Sharm esh-Sheikh, guna mengadakan pembicaraan dengan Presiden Hosni Mubarak.
Ia juga dijadwalkan mengunjungi Arab Saudi untuk membahas perkembangan saat ini di wilayah tersebut dengan Raja Abdullah bin Abdel-Aziz. ant/fif
Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan peringatan tersebut selama satu pertemuan di ibukota Suriah, Damaskus.
Dalam pertemuan itu, mereka membahas pembantaian yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza dan cara untuk menghentikan pertumpahan darah di kalangan rakyat Palestina, mencabut sanksi dan membuka tempat penyeberangan.
Bashar dan Erdogan menganggap "agresi Israel itu terhadap Jalur Gaza telah menghancurkan semua upaya yang dilancarkan guna mewujudkan perdamaian di wilayah itu".
Mereka menambahkan, "Tak mungkin untuk berbicara mengenai perdamaian mengingat sikap keras kepala Israel."
Mereka mendesak negara Arab untuk memikul tanggung-jawab mereka dengan cara menjamin pengiriman semua keperluan hidup dan medis buat rakyat di Jalur Gaza, terutama korban kejahatan Israel.
Mereka "menggaris-bawahi perlunya negara Arab dan Islam bertindak dan memaksa Israel segera menghentikan pembantaian yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina yang tak bersenjata", demikian antara lain isi laporan mengenai pertemuan kedua pemimpin Timur Tengah itu.
Kedua pihak juga menggaris-bawahi perlunya untuk melanjutkan kerjasama dan koordinasi antara kedua negara guna mengakhiri penderitaan rakyat Palestina dan mengirim bantuan bagi keluarga yang terkepung di Jalur Gaza.
Mereka juga menyampaikan penghargaan atas gerakan rakyat Arab, negara Islam dan dunia guna mendukung rakyat Jalur Gaza dan mengakhiri agresi keji Israel.
Jalur Gaza, yang dikuasai HAMAS, menghadapi serangan udara gencar Israel untuk hari kelima berturut-turut Rabu.
Sejak Sabtu lalu, serangan udara gencar terhadap Jalur Gaza telah menewaskan sebanyak 400 orang Palestina dan melukai 2.000 orang lagi.
Pada Senin, Menteri Luar Negeri Turki Ali Babacan mengatakan Turki secara resmi mengakhiri upaya guna mengadakan pembicaraan perdamaian antara Israel dan Suriah di tengah serangan Israel ke Jalur Gaza.
Seorang pejabat senior Suriah dilaporkan mengatakan pada Ahad bahwa Suriah telah menghentikan pembicaraan perdamaian tak langsung dengan Israel sebagai reaksi atas serangan Israel ke Jalur Gaza.
Pada Mei, Suriah dan Israel, yang secara teknis masih berada dalam kondisi perang sejak konflik pertama Arab-Israel pada 1948, memulai pembicaraan tak langsung melalui Turki, setelah perundingan langsung terhenti delapan tahun lalu sehubungan dengan masalah rumit Dataran Tinggi Golan.
Setelah empat babak perundingan, proses tersebut telah terhenti sejak Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mengumumkan pada Juli ia akan meletakkan jabatan sehubungan dengan tuduhan korupsi.
Suriah menjadi persinggahan pertama kunjungan Erdogan ke empat negara Timur Tengah.
Sebelum kunjungannya, ia mengatakan kepada wartawan bahwa Turki sangat prihatin dengan perkembangan di Jalur Gaza sejak operasi keji itu dimulai pada Sabtu (27/12) dan tujuan lawatannya ialah "untuk membantu menghentikan perkembangan berbahaya itu".
Erdogan dijadwalkan mengunjungi Jordani setelah meninggalkan Suriah, dan direncanakan bertemu dengan Raja Abdullah II serta Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Erdogan kemudian akan pergi ke kota pelancongan Laut Merah Mesir, Sharm esh-Sheikh, guna mengadakan pembicaraan dengan Presiden Hosni Mubarak.
Ia juga dijadwalkan mengunjungi Arab Saudi untuk membahas perkembangan saat ini di wilayah tersebut dengan Raja Abdullah bin Abdel-Aziz. ant/fif
Hari Kelima Agresi Gaza: 400 Gugur dan 2000 Terluka
Gaza: Korban pembantaian Israel di Jalur Gaza terus bertambah. Rumah-rumah warga, masjid dan fasilitas umum menjadi target bombardemen Israel. Hingga Rabu (31/12), jumlah korban gugur mencapai 400-an syuhada dan 2000-an terluka, 300-an di antaranya dalam kondisi kritis.
Aksi pembantaian terakhir Israel mengakibatkan dua orang warga Palestina gugur saat pesawat termpur Israel membombardir wilayah timur Khan Yunis, wilayah selatan Jalur Gaza, Rabu (31/12) sore. Sumber-sumber koresponden Infopalestina menegaskan dua korban sampai ke rumah sakit Nasher dalam kondisi tercabik-cabik tubuhnya.
Pada hari yang sama dua orang dokter meninggal dunia, salah seorang diakibatkan luka yang dialaminya. Sejumlah warga kembali terluka akibat serangan udara yang dilancarkan pesawat tempur Israel di berbagi wilayah di Jalur Gaza yang menghacurkan sejumlah rumah warga.
Pada saksi mata mengatakan, dr. Muhammad Abu Hashira gugur setelah rumahnya di timur kotaGaza dibom pesawat Israel. Pesawat-pesawat termpur Israel juga membom sebuah rumah di utara Jalur Gaza dan mengakibatkan sejumlah warga terluka dan dibawah ke rumah sakit-rumah sakit di utara Jalur Gaza. Sumber medis Palestina mengatakan, dr. Ihad Madhun gugur akibat luka yang dialaminya dalam serangan udara Israel, Selasa (30/12).
Sumber-sumber Palestina menyebutkan pesawat tempur Israel membom sebuah rumah milik keluarga al Fara di Rafah beberapa kali, juga rumah lain milik keluarga Salamah di Khan Yunis. Pesawat Israel juga membom rumah petinggi Brigade Martir al Quds, sayap militer Jihad Islam, Hani Abu Sabt, di Abasan, yang terletak di timur Khan Yunis.
Di kamp pengungsi Nusairat, yang terletak di Jalur Gaza tengah, pesawat tempur Israel membom sebuah mobil. Pesawat lain membom rumah yang sudah ditinggalkan pemiliknya di kampung Tel Hawa, di barat daya kotaGaza.
Menteri Kesehatan Palestina Dr. Baseem Naeem sebelumnya telah menegaskan bahwa korban pembantaian terbuka yang dilakukan Zionis Israel di Jalur Gaza sejak hari Sabtu (27/12), terus bertambah banyak. Terlebih ada ratusan korban luka yang dalam kondisi kritis dan puluhan lainnya masih di bawah puing-puing reruntuhan.
Naeen menegaskan persediaan obat-obatan dan kebutuhan medis lainnya sangat kurang untuk menghadapi kondisi darurat ini. Dia mengungakapkan ada 105 jenis obat-obatan utama yang stoknya nol, 225 kebutuhan medis lainnya stoknya juga nol. Sementara itu 93 bahan khusus laboratoriam stoknya juga nol.
Dalam konferensi pers, Ahad (28/12) malam, Naeem mengatakan 50% mobil ambulan tidak bisa beroperasi karena tidak ada gas dan bahan bakar akibat blockade. Saat ini juga sangat dibutuhkan pembangkit listrik. Naeem menegaskan semua itu sudah terjadi sejak sebelum pembantaian yang dimulai Israel Sabtu lalu dan akibat blockade Israel. Dia mengatakan, “Agresi terjadi di tengah-tengah sikap diam Arab yang membunuh dan persekongkolan dunia.”
Dia menyatakan pasukan penjajah Zionis Israel tidak hanya menggempur isntitusi-institusi dan gedung-gedung namun mulai mengempur fasilitas-fasilits sipil dan rumah-rumah warga. Ada puluhan peringatan unutuk mengosongkan rumah dan ancaman kepada para penghuninya akan dihancurkan di atas kepala mereka. Dia meminta pengiriman tim medis Arab dan rumah sakit-rumah sakit lapangan utuk membantu pengobatan korban luka di saat-saat korban tiba. Dia mengimbau Negara-negara Arab untuk mengirim obat-obatan dan kebutuhan medis secepatnya dan mengganti kekurangan mobil ambulan dengan mengirim mobil ambulan yang siap beroperasi.
Mengenai pengiriman korban luka melalui gerbag Rafah, Naeem mengatakan, “Ada kesulitan membawa korban ke luar Jalur Gaza. Padahal ada banyak korban luka yang sangat serius. Apapun upaya membawa korban dengan tidak aman justru membuat hidup mereka terancam bahaya. Kami masih ingat meninggalnya 6 korban luka di Arisy terakhir.”
Dia mengatakan, “Kami siap membawa korban luka kapan kondisi mereka stabil.” Dia menegaskan bahwa pemerintah Haniyah sudah meminta mobil ambulan Mesir masuk ke Gaza untuk mengevakuasi korban namun mereka menolak dengan alasan politik. Naeem mengatakan, “Siapa yang ingin membantu rakyat Palestina dalam ujian ini maka harus memudahkan sampainya tim dokter dan rumah sakit lapangan masuk secepatnya pada saat-saat sulit di Jalur Gaza.”
Menurutnya, sudah ada ratusan dokter Arab yang menunjukkan kesiapan mereka untuk masuk ke Jalur Gaza. Sebagian mereka sudah bermalam di sisi perbatasan Mesir dari gerbang Rafah berharap bisa masuk. Namun otoritas Mesir menahan mereka.
Dia menambahkan, bahkan tim medis dari departemen kesehatan Palestina sudah berada di sisi Jalur Gaza dari gerbang Rfah sejak pagi untuk menerima bantuan medis Arab, namun otoritas Mesir tidak mengizinkan mereka masuk hingga saat ini.
Naeen mengucapkan terima kasih kepada Negara-negara yang sudah membantu seperti Qatar, Arab Saudi dan Libia. Namun pihaknya kembali meminta Mesir mempermudah masuknya bantuan ini dan membuka gerbang untuk masuk tim tim medis ke Jalur Gaza. (seto)
Aksi pembantaian terakhir Israel mengakibatkan dua orang warga Palestina gugur saat pesawat termpur Israel membombardir wilayah timur Khan Yunis, wilayah selatan Jalur Gaza, Rabu (31/12) sore. Sumber-sumber koresponden Infopalestina menegaskan dua korban sampai ke rumah sakit Nasher dalam kondisi tercabik-cabik tubuhnya.
Pada hari yang sama dua orang dokter meninggal dunia, salah seorang diakibatkan luka yang dialaminya. Sejumlah warga kembali terluka akibat serangan udara yang dilancarkan pesawat tempur Israel di berbagi wilayah di Jalur Gaza yang menghacurkan sejumlah rumah warga.
Pada saksi mata mengatakan, dr. Muhammad Abu Hashira gugur setelah rumahnya di timur kotaGaza dibom pesawat Israel. Pesawat-pesawat termpur Israel juga membom sebuah rumah di utara Jalur Gaza dan mengakibatkan sejumlah warga terluka dan dibawah ke rumah sakit-rumah sakit di utara Jalur Gaza. Sumber medis Palestina mengatakan, dr. Ihad Madhun gugur akibat luka yang dialaminya dalam serangan udara Israel, Selasa (30/12).
Sumber-sumber Palestina menyebutkan pesawat tempur Israel membom sebuah rumah milik keluarga al Fara di Rafah beberapa kali, juga rumah lain milik keluarga Salamah di Khan Yunis. Pesawat Israel juga membom rumah petinggi Brigade Martir al Quds, sayap militer Jihad Islam, Hani Abu Sabt, di Abasan, yang terletak di timur Khan Yunis.
Di kamp pengungsi Nusairat, yang terletak di Jalur Gaza tengah, pesawat tempur Israel membom sebuah mobil. Pesawat lain membom rumah yang sudah ditinggalkan pemiliknya di kampung Tel Hawa, di barat daya kotaGaza.
Menteri Kesehatan Palestina Dr. Baseem Naeem sebelumnya telah menegaskan bahwa korban pembantaian terbuka yang dilakukan Zionis Israel di Jalur Gaza sejak hari Sabtu (27/12), terus bertambah banyak. Terlebih ada ratusan korban luka yang dalam kondisi kritis dan puluhan lainnya masih di bawah puing-puing reruntuhan.
Naeen menegaskan persediaan obat-obatan dan kebutuhan medis lainnya sangat kurang untuk menghadapi kondisi darurat ini. Dia mengungakapkan ada 105 jenis obat-obatan utama yang stoknya nol, 225 kebutuhan medis lainnya stoknya juga nol. Sementara itu 93 bahan khusus laboratoriam stoknya juga nol.
Dalam konferensi pers, Ahad (28/12) malam, Naeem mengatakan 50% mobil ambulan tidak bisa beroperasi karena tidak ada gas dan bahan bakar akibat blockade. Saat ini juga sangat dibutuhkan pembangkit listrik. Naeem menegaskan semua itu sudah terjadi sejak sebelum pembantaian yang dimulai Israel Sabtu lalu dan akibat blockade Israel. Dia mengatakan, “Agresi terjadi di tengah-tengah sikap diam Arab yang membunuh dan persekongkolan dunia.”
Dia menyatakan pasukan penjajah Zionis Israel tidak hanya menggempur isntitusi-institusi dan gedung-gedung namun mulai mengempur fasilitas-fasilits sipil dan rumah-rumah warga. Ada puluhan peringatan unutuk mengosongkan rumah dan ancaman kepada para penghuninya akan dihancurkan di atas kepala mereka. Dia meminta pengiriman tim medis Arab dan rumah sakit-rumah sakit lapangan utuk membantu pengobatan korban luka di saat-saat korban tiba. Dia mengimbau Negara-negara Arab untuk mengirim obat-obatan dan kebutuhan medis secepatnya dan mengganti kekurangan mobil ambulan dengan mengirim mobil ambulan yang siap beroperasi.
Mengenai pengiriman korban luka melalui gerbag Rafah, Naeem mengatakan, “Ada kesulitan membawa korban ke luar Jalur Gaza. Padahal ada banyak korban luka yang sangat serius. Apapun upaya membawa korban dengan tidak aman justru membuat hidup mereka terancam bahaya. Kami masih ingat meninggalnya 6 korban luka di Arisy terakhir.”
Dia mengatakan, “Kami siap membawa korban luka kapan kondisi mereka stabil.” Dia menegaskan bahwa pemerintah Haniyah sudah meminta mobil ambulan Mesir masuk ke Gaza untuk mengevakuasi korban namun mereka menolak dengan alasan politik. Naeem mengatakan, “Siapa yang ingin membantu rakyat Palestina dalam ujian ini maka harus memudahkan sampainya tim dokter dan rumah sakit lapangan masuk secepatnya pada saat-saat sulit di Jalur Gaza.”
Menurutnya, sudah ada ratusan dokter Arab yang menunjukkan kesiapan mereka untuk masuk ke Jalur Gaza. Sebagian mereka sudah bermalam di sisi perbatasan Mesir dari gerbang Rafah berharap bisa masuk. Namun otoritas Mesir menahan mereka.
Dia menambahkan, bahkan tim medis dari departemen kesehatan Palestina sudah berada di sisi Jalur Gaza dari gerbang Rfah sejak pagi untuk menerima bantuan medis Arab, namun otoritas Mesir tidak mengizinkan mereka masuk hingga saat ini.
Naeen mengucapkan terima kasih kepada Negara-negara yang sudah membantu seperti Qatar, Arab Saudi dan Libia. Namun pihaknya kembali meminta Mesir mempermudah masuknya bantuan ini dan membuka gerbang untuk masuk tim tim medis ke Jalur Gaza. (seto)
Rabu, 10 Desember 2008
Did you know?
1. That Masjid Al Aqsa was the second Masjid on earth.
2. That it was built 40 years after the Ka’ba in Makkah.
3. That most scholars are of the opinion that Masjid Al Aqsa was first built by Prophet Adam [as].
4. That Ibrahim [as] rebuilt the Masjid Al Aqsa in Jerusalem with his son Ishaq [as] as he and Ismail [as] rebuilt the Ka’ba in Makkah.
5. That Prophet Daud [as] began the rebuilding of Masjid Al Aqsa.
6. That it was Prophet Sulayman [as] who finally completed the building of Masjid Al Aqsa.
7. That the Masjid Al Aqsa built by Sulayman [as] was destroyed in 587 BC by Nebuchadnezzar King of Babylon.
8. That the Jewish people call this same Masjid Al Aqsa built by Sulayman [as] their Temple.
9. That the Jewish people re-built their Temple on the same site in 167 BC but this was destroyed in 70 AD and Jews were banished from Jerusalem at the same time.
10. That the site of Masjid Al Aqsa remained barren and was used as a rubbish tip for nearly 600 years until the Great Khalifah Umar bin al-Khattab liberated Jerusalem in 637/8 AD.
11. That the caliph Umar bin Khattab ordered the foundations of Masjid Al Aqsa to be laid and a timber mosque was built on the site.
12. That the Umayyad caliph, Abd’ al Malik ibn Marwan in 691/2 [72/73 AH] began the construction of the Dome of the Rock (the Golden Domed Mosque).
13. That the al Buraq wall or Western Wall where Prophet Muhammad [saas] tied al-Buraq on the night journey of al Isra is what the Jewish people call the wailing wall.
14. That Muslims consider the land or the Haram Sharif area to be sacred and holy, not the Masjid buildings that exist there -although these do have historical significances.
15. That the land of the Masjid Al Aqsa contains tow main buildings called Al-Aqsa [Black Domed Mosque] and the Dome of the Rock [the Golden Domed Mosque].
16. That Israel occupied Masjid Al Aqsa in 1967.
17. That fundamentalist Jews have made 100’s of attempts to destroy Al Aqsa since 1967 when they occupied it. A fire in 1967 destroyed the 900 year old Mimbar installed by Salah'ideen Ayubi, the Great Muslim Hero.
18. That many fundamentalist Jews want to re-build their Temple within Masjid Al Aqsa and destroy what exists there now.
2. That it was built 40 years after the Ka’ba in Makkah.
3. That most scholars are of the opinion that Masjid Al Aqsa was first built by Prophet Adam [as].
4. That Ibrahim [as] rebuilt the Masjid Al Aqsa in Jerusalem with his son Ishaq [as] as he and Ismail [as] rebuilt the Ka’ba in Makkah.
5. That Prophet Daud [as] began the rebuilding of Masjid Al Aqsa.
6. That it was Prophet Sulayman [as] who finally completed the building of Masjid Al Aqsa.
7. That the Masjid Al Aqsa built by Sulayman [as] was destroyed in 587 BC by Nebuchadnezzar King of Babylon.
8. That the Jewish people call this same Masjid Al Aqsa built by Sulayman [as] their Temple.
9. That the Jewish people re-built their Temple on the same site in 167 BC but this was destroyed in 70 AD and Jews were banished from Jerusalem at the same time.
10. That the site of Masjid Al Aqsa remained barren and was used as a rubbish tip for nearly 600 years until the Great Khalifah Umar bin al-Khattab liberated Jerusalem in 637/8 AD.
11. That the caliph Umar bin Khattab ordered the foundations of Masjid Al Aqsa to be laid and a timber mosque was built on the site.
12. That the Umayyad caliph, Abd’ al Malik ibn Marwan in 691/2 [72/73 AH] began the construction of the Dome of the Rock (the Golden Domed Mosque).
13. That the al Buraq wall or Western Wall where Prophet Muhammad [saas] tied al-Buraq on the night journey of al Isra is what the Jewish people call the wailing wall.
14. That Muslims consider the land or the Haram Sharif area to be sacred and holy, not the Masjid buildings that exist there -although these do have historical significances.
15. That the land of the Masjid Al Aqsa contains tow main buildings called Al-Aqsa [Black Domed Mosque] and the Dome of the Rock [the Golden Domed Mosque].
16. That Israel occupied Masjid Al Aqsa in 1967.
17. That fundamentalist Jews have made 100’s of attempts to destroy Al Aqsa since 1967 when they occupied it. A fire in 1967 destroyed the 900 year old Mimbar installed by Salah'ideen Ayubi, the Great Muslim Hero.
18. That many fundamentalist Jews want to re-build their Temple within Masjid Al Aqsa and destroy what exists there now.
Israeli Myths
Israel is a state with an expansionist ideology. It has never defined its own borders and refuses to do so. As a result, it is the Palestinians who face annihilation as none of their historic homeland is safe from Israeli occupation and annexation.
Israel is guilty of creating facts on the ground in order to deeply entrench its occupation of the West Bank. It is also guilty of narrating ‘alternative’ chains of events in its history through its school textbooks and other mediums. Many myths have materialised in this way and are recounted and used by Israel’s apologists in order to justify the actions of the state of Israel. It is important to highlight these misconceptions which are damaging to Palestinians and their cause.
Some myths are listed below, followed by the real facts
Myth 1
Palestine was empty land before 1948 - “A land without a people for a people without a land” – Israel Zangwill
The Fact is ......
This phrase became the potent rallying call for Zionist settlement in Palestine. It was not until 1904 that Zangwill realised there was a fundamental problem with the Zionist programme. In a speech given in New York he explained:
“There is… a difficulty from which the Zionist dare not avert his eyes… Palestine proper has already its inhabitants. The pashalik of Jerusalem is already twice as thickly populated as the United States, having 52 souls to every square mile, and not 25 percent of them Jews” – Israel Zangwill
Myth 2
Zionists have historical/religious rights to the Holy Land
The Fact is ....
Religious Jews believe that the Torah only allows return to Palestine by divine intervention. Human attempts to re-establish Israel are considered heretical and many orthodox rabbis openly condemned Theodore Herzl and the entire concept of Zionism.
Myth 3
Zionism and Judaism are the same
The Fact is....
Theodore Herzl (the founder of Zionism) was not a religious person, and Zionism is a nationalistic doctrine completely separate from religion. Some quotes from his diaries include the following:
‘… I do not obey a religious impulse…’ (Theodor Herzl: Diaries, Victor Gollanz, 1958)
‘… I am agnostic…’ (p54 Theodor Herzl Diaries, passim)
‘… For me, the Jewish question is neither a social nor a religious one… it is a national question… Palestine is our unforgettable historical homeland… the very name would be a powerful rallying cry for our people.’
[Herzl, L’Etat Juif, p. 209]
Myth4
The Israelis claim that in 1948 the Palestinians left their homes of their own accord and that the Arab leaders promoted this via radio broadcasts.
The Fact is .....
An Irish journalist investigating this myth found that not a single appeal or order was broadcast on radio from Arab leaders during that time. However, evidence was found that Zionist stations broadcasted in Arabic urging Palestinians to leave their homes. [The spectator, 12th May 1961]
Zionist gangs were responsible for numerous massacres and atrocities which were used to frighten other Palestinians into fleeing their homes. The massacre at the Deir Yassin village on April 9 and 10, 1948, was the best documented. This was the bloody and violent killing of 250 people; men, women and children. News of the Massacre was circulated far and wide to terrify other Palestinians who dared remain in their homes. The Zionist trickery worked and thousands of Palestinians began to flee for their lives, leaving their homes and belongings behind – never to return.
Myth 5
Israel is occupied by Palestinians
The Fact is ......
The deliberate use of terminology such as ‘terrorists’ and ‘militants’ when referring to the Palestinians, and ‘authorities’ and ‘army’ when referring to the Israelis has created confusion in the minds of many people about the nature of the conflict.
In 2004, a study at Glasgow University revealed that many Brits believed, based on the way the news is reported, that it was the Palestinians who were occupying Israel. In 2006, one newspaper even reported that Israel was being occupied by Palestinians, revealing new depths in the level of the unawareness.
There is obviously no doubt that Israel is occupying Palestinian land. The United Nations Security Council in Resolutions 446, 465 and 484, among others, resolved that the West Bank, East Jerusalem, and Gaza are occupied and that the Fourth Geneva Convention provisions regarding occupied territories apply. In addition, the International Court of Justice in its decision on the separation barrier, ruled that the West Bank, Gaza Strip and East Jerusalem are occupied
Myth 6
The Arabs started the 1967 war
The Fact is .......
“The Egyptian Army concentrations in the Sinai approaches do not prove that Nasser was really about to attack us. We must be honest with ourselves. We decided to attack him”.
- Menachem Begin, Israeli Prime Minister, June 1967
“We would send a tractor to plough some area where it wasn’t possible to do anything, in the demilitarised area, and knew in advance that the Syrians would start to shoot, if they didn’t shoot, we would tell the tractor to advance further, until in the end the Syrians would get annoyed and shoot. And then we would use artillery and later the air force also, and that’s how it was”
- Moshe Dayan, Israeli Defence Minister during the 1967 war
- The New York Times, May 11th, 1997
Myth 7
Criticism of Israel/Zionism is anti-Semitism
The Fact is ....
Anti-Zionism is often equated with anti-Semitism by Israeli supporters who wish to silence all criticism of Israel, regardless of how legitimate it may be. Thus, many who criticize Israeli actions and highlight Israel’s gross human rights abuses are unjustly and wrongly accused of being anti-Semitic.
In reality, Anti-Zionism is the opposition to Zionism as an international political movement for the creation of an exclusively Jewish state in the land of Palestine. By its very nature, such a state is discriminatory and racist towards all non-Jews, especially the native Palestinians. Many anti-Zionists support a one-state solution where the land will be inhabited by all the people there, both Israeli and Palestinian without discrimination.
Anti-Semitism is defined in the New Oxford Dictionary of English as follows:
Semite: member of any of the peoples who speak or spoke a Semitic language, including in particular the Jews and Arabs.
Origin from modern Latin Semita via late Latin from Greek Shem, son of Noah (as) in the Bible, from whom these people were traditionally believed to be descended from.
Semitic: 1. Relating to or denoting a family of languages that includes Hebrew, Arabic, and Aramaic and certain ancient languages such as Phonecian and Akkadian, constituting the main subgroup of the Afro-Asiatic family.
Semitic: 2. Of or relating to the peoples who speak these languages, especially Hebrew and Arabic.
It is clear that anti-Zionism and anti-Semitism are very different to each other. While anti-Semitism is condemned with no exception, anti-Zionism on the other hand is a legitimate position.
Israel is guilty of creating facts on the ground in order to deeply entrench its occupation of the West Bank. It is also guilty of narrating ‘alternative’ chains of events in its history through its school textbooks and other mediums. Many myths have materialised in this way and are recounted and used by Israel’s apologists in order to justify the actions of the state of Israel. It is important to highlight these misconceptions which are damaging to Palestinians and their cause.
Some myths are listed below, followed by the real facts
Myth 1
Palestine was empty land before 1948 - “A land without a people for a people without a land” – Israel Zangwill
The Fact is ......
This phrase became the potent rallying call for Zionist settlement in Palestine. It was not until 1904 that Zangwill realised there was a fundamental problem with the Zionist programme. In a speech given in New York he explained:
“There is… a difficulty from which the Zionist dare not avert his eyes… Palestine proper has already its inhabitants. The pashalik of Jerusalem is already twice as thickly populated as the United States, having 52 souls to every square mile, and not 25 percent of them Jews” – Israel Zangwill
Myth 2
Zionists have historical/religious rights to the Holy Land
The Fact is ....
Religious Jews believe that the Torah only allows return to Palestine by divine intervention. Human attempts to re-establish Israel are considered heretical and many orthodox rabbis openly condemned Theodore Herzl and the entire concept of Zionism.
Myth 3
Zionism and Judaism are the same
The Fact is....
Theodore Herzl (the founder of Zionism) was not a religious person, and Zionism is a nationalistic doctrine completely separate from religion. Some quotes from his diaries include the following:
‘… I do not obey a religious impulse…’ (Theodor Herzl: Diaries, Victor Gollanz, 1958)
‘… I am agnostic…’ (p54 Theodor Herzl Diaries, passim)
‘… For me, the Jewish question is neither a social nor a religious one… it is a national question… Palestine is our unforgettable historical homeland… the very name would be a powerful rallying cry for our people.’
[Herzl, L’Etat Juif, p. 209]
Myth4
The Israelis claim that in 1948 the Palestinians left their homes of their own accord and that the Arab leaders promoted this via radio broadcasts.
The Fact is .....
An Irish journalist investigating this myth found that not a single appeal or order was broadcast on radio from Arab leaders during that time. However, evidence was found that Zionist stations broadcasted in Arabic urging Palestinians to leave their homes. [The spectator, 12th May 1961]
Zionist gangs were responsible for numerous massacres and atrocities which were used to frighten other Palestinians into fleeing their homes. The massacre at the Deir Yassin village on April 9 and 10, 1948, was the best documented. This was the bloody and violent killing of 250 people; men, women and children. News of the Massacre was circulated far and wide to terrify other Palestinians who dared remain in their homes. The Zionist trickery worked and thousands of Palestinians began to flee for their lives, leaving their homes and belongings behind – never to return.
Myth 5
Israel is occupied by Palestinians
The Fact is ......
The deliberate use of terminology such as ‘terrorists’ and ‘militants’ when referring to the Palestinians, and ‘authorities’ and ‘army’ when referring to the Israelis has created confusion in the minds of many people about the nature of the conflict.
In 2004, a study at Glasgow University revealed that many Brits believed, based on the way the news is reported, that it was the Palestinians who were occupying Israel. In 2006, one newspaper even reported that Israel was being occupied by Palestinians, revealing new depths in the level of the unawareness.
There is obviously no doubt that Israel is occupying Palestinian land. The United Nations Security Council in Resolutions 446, 465 and 484, among others, resolved that the West Bank, East Jerusalem, and Gaza are occupied and that the Fourth Geneva Convention provisions regarding occupied territories apply. In addition, the International Court of Justice in its decision on the separation barrier, ruled that the West Bank, Gaza Strip and East Jerusalem are occupied
Myth 6
The Arabs started the 1967 war
The Fact is .......
“The Egyptian Army concentrations in the Sinai approaches do not prove that Nasser was really about to attack us. We must be honest with ourselves. We decided to attack him”.
- Menachem Begin, Israeli Prime Minister, June 1967
“We would send a tractor to plough some area where it wasn’t possible to do anything, in the demilitarised area, and knew in advance that the Syrians would start to shoot, if they didn’t shoot, we would tell the tractor to advance further, until in the end the Syrians would get annoyed and shoot. And then we would use artillery and later the air force also, and that’s how it was”
- Moshe Dayan, Israeli Defence Minister during the 1967 war
- The New York Times, May 11th, 1997
Myth 7
Criticism of Israel/Zionism is anti-Semitism
The Fact is ....
Anti-Zionism is often equated with anti-Semitism by Israeli supporters who wish to silence all criticism of Israel, regardless of how legitimate it may be. Thus, many who criticize Israeli actions and highlight Israel’s gross human rights abuses are unjustly and wrongly accused of being anti-Semitic.
In reality, Anti-Zionism is the opposition to Zionism as an international political movement for the creation of an exclusively Jewish state in the land of Palestine. By its very nature, such a state is discriminatory and racist towards all non-Jews, especially the native Palestinians. Many anti-Zionists support a one-state solution where the land will be inhabited by all the people there, both Israeli and Palestinian without discrimination.
Anti-Semitism is defined in the New Oxford Dictionary of English as follows:
Semite: member of any of the peoples who speak or spoke a Semitic language, including in particular the Jews and Arabs.
Origin from modern Latin Semita via late Latin from Greek Shem, son of Noah (as) in the Bible, from whom these people were traditionally believed to be descended from.
Semitic: 1. Relating to or denoting a family of languages that includes Hebrew, Arabic, and Aramaic and certain ancient languages such as Phonecian and Akkadian, constituting the main subgroup of the Afro-Asiatic family.
Semitic: 2. Of or relating to the peoples who speak these languages, especially Hebrew and Arabic.
It is clear that anti-Zionism and anti-Semitism are very different to each other. While anti-Semitism is condemned with no exception, anti-Zionism on the other hand is a legitimate position.
Langganan:
Postingan (Atom)